Sejumlah tokoh populer di provinsi Banten mulai mengambil formulir pendaftaran bakal calon Gubernur Banten di sejumlah partai politik. Namun salah satu tokoh potensial Banten, Arief R. Wismansyah diketahui belum mengambil sikap politiknya walaupun dukungan dan dorongan datang dari banyak pihak.
Seperti telah diketahui, tokoh di Banten seperti Airin Rachmi Diany, Rano Karno dan Dimyati Natakusuma sudah mengambil formulir pencalonan Gubernur Banten.
Ulama kharismastik Kota Tangerang KH. Baijuri Khotib pada suatu kesempatan menyampaikan sosok Arief R. Wismansyah mantan Wali kota Tangerang dua periode layak untuk maju menjadi Gubernur Banten.
Ia berpendapat untuk membangun Provinsi Banten yang religius dan berprestasi, diperlukan pemimpin yang memiliki pemikiran yang sejalan dengan nilai-nilai keagamaan.
“Arief R. Wismansyah adalah sosok yang berani, cerdas, tegas, dan memiliki kedalaman spiritual. Saya mendukung langkah maju pak Arief,” kata Baijuri.
Ia juga menyinggung bahwa pemimpin yang dibutuhkan haruslah seorang laki-laki, sesuai dengan pandangan agama Islam.
“Kalau ada laki-laki, kenapa harus perempuan,” tegasnya.
Baijuri juga menekankan agar Arief segera untuk mendaftar pencalonan Gubernur Banten sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
Ketua Nadhatul Ulama (NU) Kota Tangerang Dedi Mahfudin pun turut berkomentar bahwa sosok mantan Wali kota Tangerang dua periode itu layak untuk maju menjadi calon Gubernur Banten.
Pernah menjadi wakil wali kota Tangerang satu periode dan dua kali menjadi wali kota Tangerang dinilainya sebagai modal yang lebih dari cukup untuk maju ke pencalonan Gubernur Banten.
“Cukuplah, beliau kan sudah sarat pengalaman, masih muda, religius dan cerdas,”ujarnya singkat dihubungi melalui pesan singkat, Kamis, 2 Mei 2024.
Sementara itu Pengamat politik Memed Chumaedy berpendapat Arif R. Wismansyah seyogyanya mengambil formulir pencalonan gubernur Banten, karena itu mekanisme yang harus ditempuh baik menjadi bakal calon Gubernur maupun bakal calon wakil Gubernur.
“Harusnya Arief ngambil (formulir), karena dalam undang-udang pencalonan Gubernur, wali kota, Bupati bahwa pencalonan itu melalui partai politik. Artinya yang dicalonkan itu partai politik atau perorangan, nah ketika memang berpikirnya itu partai politik maka konsekuensinya harus daftar ke partai politik,”ujar akademisi Universitas Muhamadiyah Tangerang ini.
Ia berpendapat jangan sampai Arief tidak mengambil formulir dan hanya menunggu diajak partai.
“Menurut saya pak Arief sedang mencoba menawarkan dirinya adalah layak untuk di pinang. Kemudian, urusan Gubernur itu dicalonkan oleh partai politik nanti calon Gubernur nya ini yang menentukan wakilnya,”ungkapnya.
Selain itu, Ia berpendapat, Arief saat ini menjalankan proses dirinya bisa masuk ke semua tingkatan partai politik kendati dia merupakan kader partai Demokrat.
“Namanya rezim partai politik menginginkan bahwa semua pelaksanaan calon Gubernur dan calon wakil Gubernur itu harus melalui fit and propertes mekanisme partai politik,”pungkasnya.